Kisah Baby Udon Bikin Penonton Semarang Menangis Tersedu-sedu

Roadshow Film Baby Udon di Semarang

SEMARANG — Suasana haru mewarnai roadshow film Baby Udon di Citra XXI, Mal Ciputra Semarang, Minggu (16/8/2026) sore. Sejumlah penonton terlihat menitikkan air mata, bahkan beberapa di antaranya menangis tersedu-sedu setelah mengikuti perjalanan emosional yang disajikan film tersebut.

Isak tangis terdengar di dalam studio ketika sejumlah adegan menyentuh sisi emosional penonton. Cerita tentang keluarga, kasih sayang, kehilangan, dan hubungan antarmanusia membuat penonton larut hingga sulit menahan air mata.

Suasana semakin istimewa dengan kehadiran Denny Sumargo, produser sekaligus pemeran Hajime, Caitlin Halderman yang memerankan Fanny, serta Fanny Kondoh, pemilik kisah asli yang menjadi bagian dari inspirasi film tersebut.

Denny Sumargo bahkan turun langsung menyapa penonton yang masih terbawa suasana setelah film selesai diputar. Ia menghampiri sejumlah penonton yang terlihat menangis.

“Saya justru senang melihat respons seperti ini, karena artinya cerita yang kami bawa sampai kepada penonton. Film itu bukan cuma soal kita membuat sesuatu lalu selesai, tetapi bagaimana cerita tersebut bisa dirasakan dan punya tempat di hati orang yang menonton,” ujar Denny.

Menurut Denny, respons penonton di Semarang terasa semakin spesial karena kota ini memiliki keterkaitan dengan film melalui sejumlah lokasi yang digunakan dalam proses pengambilan gambar.

“Semarang punya tempat khusus dalam perjalanan film ini karena ada beberapa bagian cerita yang kami ambil di sini. Jadi ketika datang ke Semarang dan melihat penontonnya merespons dengan sangat emosional, rasanya ada kebahagiaan tersendiri,” katanya.

Sementara itu, Caitlin Halderman mengaku ikut terbawa suasana ketika melihat penonton menangis saat menyaksikan film. Ia mengatakan karakter Fanny menjadi salah satu peran yang memberikan pengalaman emosional selama proses produksi.

“Sebagai pemain, tentu rasanya campur aduk ketika melihat penonton sampai menangis. Kami selama proses syuting juga berusaha benar-benar masuk ke dalam perasaan karakter, sehingga ketika penonton bisa merasakan hal yang sama, itu menjadi sesuatu yang sangat berarti buat saya,” ujar Caitlin.

Memerankan Fanny juga membuat Caitlin harus memahami sisi emosional karakter secara lebih mendalam.

“Saya berharap Fanny bisa terasa sebagai sosok yang dekat dengan penonton. Bukan karakter yang sempurna, tetapi seseorang yang punya perasaan, punya persoalan, dan berusaha menghadapi semuanya. Kalau penonton kemudian ikut merasakan perjalanan Fanny, buat saya itu sudah menjadi sebuah keberhasilan,” tutur Caitlin.

Kehadiran Fanny Kondoh, pemilik kisah asli, memberikan warna tersendiri dalam roadshow tersebut. Kisah yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan nyata itu kini hadir dalam bentuk film dan disaksikan oleh banyak orang.

Fanny mengaku perasaannya sulit digambarkan ketika melihat kisah yang dekat dengan kehidupannya diangkat ke layar lebar dan kemudian mampu membuat penonton tersentuh.

“Perasaannya campur aduk. Ada bahagia, haru, dan juga rasa tidak percaya ketika melihat cerita yang begitu dekat dengan kehidupan saya sekarang bisa ditonton banyak orang. Apalagi ketika melihat penonton menangis, saya merasa cerita ini benar-benar sampai kepada mereka,” ujar Fanny.

Menurut Fanny, setiap orang mungkin memiliki pengalaman yang berbeda ketika menonton Baby Udon. Namun, ia berharap pesan tentang keluarga dan hubungan antarmanusia dapat menjadi sesuatu yang dibawa pulang oleh penonton.

“Saya berharap setelah menonton film ini, orang tidak hanya mengingat ceritanya, tetapi juga mengingat orang-orang yang mereka sayangi. Kadang kita baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika sudah berada dalam situasi tertentu. Mudah-mudahan film ini bisa membuat kita lebih menghargai keluarga dan orang-orang terdekat,” katanya.

Kedekatan Baby Udon dengan Semarang menjadi daya tarik tambahan bagi penonton lokal. Sejumlah adegan film mengambil lokasi di Kota Semarang sehingga menghadirkan pengalaman berbeda ketika warga menyaksikan tempat-tempat yang mereka kenal muncul di layar lebar.

Usai pemutaran film, suasana haru belum sepenuhnya hilang. Beberapa penonton masih terlihat menyeka air mata ketika para pemain hadir menyapa mereka.

Roadshow Baby Udon di Semarang pun tidak sekadar menjadi agenda pertemuan pemain dengan penonton. Sore itu, bioskop menjadi ruang perjumpaan antara sebuah kisah, orang-orang yang menghidupkannya, dan penonton yang kemudian menemukan emosi mereka sendiri di dalam cerita tersebut.***

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI