SEMARANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memprediksi musim kemarau 2026 di wilayah Jawa Tengah umumnya akan mulai berlangsung pada Mei 2026. Kondisi ini diperkirakan terjadi lebih cepat hingga sama dengan pola normal klimatologis yang biasa terjadi di wilayah tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan prediksi tersebut disusun berdasarkan hasil analisis data iklim serta perkembangan dinamika atmosfer regional dan global yang berpotensi memengaruhi kondisi cuaca di Jawa Tengah.
“Awal musim kemarau di Jawa Tengah umumnya diprediksi terjadi pada bulan Mei 2026,” ujarnya dalam rilis yang diterima di Semarang, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan, awal musim kemarau paling cepat diperkirakan terjadi pada awal April 2026 atau dasarian pertama April di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Rembang, Kepulauan Karimunjawa, sebagian besar wilayah Kabupaten Pati dan Jepara, serta sebagian kecil wilayah Kabupaten Demak dan Blora.
Sementara itu, awal musim kemarau paling akhir diperkirakan berlangsung pada pertengahan Juni 2026 atau dasarian kedua Juni, yang meliputi sebagian wilayah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, serta sebagian kecil wilayah Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, dan Kebumen.
Menurut Goeroeh, puncak musim kemarau di Jawa Tengah diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan sifat hujan yang umumnya berada pada kategori bawah normal.
Dari sisi durasi, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung selama 16 hingga 18 dasarian atau sekitar lima hingga enam bulan. Namun di beberapa wilayah, terutama sebagian kecil Kabupaten Pati dan Rembang, durasinya diprediksi lebih panjang, yakni mencapai 25 hingga 27 dasarian atau sekitar delapan hingga sembilan bulan.
“Jika dibandingkan kondisi klimatologisnya, panjang musim kemarau tahun 2026 di Jawa Tengah umumnya diperkirakan lebih panjang sekitar satu hingga tiga dasarian,” kata dia.
BMKG juga mencatat fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada kondisi netral dengan indeks minus 0,28 dan diprediksi bertahan hingga semester pertama 2026. Namun terdapat peluang munculnya El Niño pada awal semester kedua tahun ini. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada dalam kondisi netral dan diperkirakan berlanjut hingga pertengahan tahun 2026.
Selain itu, suhu permukaan laut di perairan Indonesia pada periode Maret hingga Agustus 2026 diperkirakan berada pada kondisi normal hingga lebih hangat dengan anomali sekitar 0,5 hingga 2,0 derajat Celsius. Monsun Australia juga diprediksi mulai dominan pada Mei 2026.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada saat masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Pada periode tersebut berpotensi terjadi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam waktu singkat, petir, angin kencang hingga puting beliung yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
“Masyarakat diimbau tetap waspada dan melakukan langkah antisipasi terhadap potensi dampak cuaca ekstrem pada masa peralihan musim,” ujar Goeroeh. ***