Laba Moncer dan Fundamental Solid, Analis Pasang Target Harga Tinggi untuk Saham BMRI

Bank Mandiri. (Sumber: | Foto: dok.)

JAKARTA — PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan kinerja solid sepanjang 2025. Laba bersih perseroan pada kuartal IV-2025 mencapai Rp 18,6 triliun, melonjak 40 persen secara kuartalan (qoq) dan 35 persen secara tahunan (yoy). Dengan capaian tersebut, total laba bersih sepanjang 2025 menembus Rp 56,3 triliun, tumbuh 1 persen yoy.

Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, menyebut realisasi laba tersebut sejalan dengan estimasi internal dan bahkan melampaui konsensus pasar. “Perolehan laba bersih tersebut setara 101 persen dari estimasi kami dan 110 persen dari konsensus,” tulisnya dalam riset yang dikutip Minggu (15/2/2026).

Dari sisi intermediasi, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BMRI pada 2025 tercatat 4,9 persen atau turun 26 basis poin yoy. Penurunan ini terutama dipicu turunnya yield kredit, meski sebagian tertahan oleh penurunan biaya dana (cost of fund/CoF).

Kualitas aset tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) berada di level 1,1 persen dan loan at risk (LAR) sebesar 6,5 persen. Pertumbuhan kredit tercatat 13 persen yoy atau 7 persen qoq, dipimpin segmen korporasi yang naik 23 persen yoy dan kredit komersial tumbuh 12 persen yoy.

Penghimpunan dana juga menunjukkan tren positif. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat, ditopang current account saving account (CASA) yang tumbuh 12,6 persen yoy menjadi Rp 1.431 triliun. Loan to deposit ratio (LDR) terjaga di kisaran 89 persen.

Untuk 2026, BMRI menargetkan pertumbuhan kredit 7–9 persen yoy, NIM di kisaran 4,6–4,8 persen, cost of credit (CoC) 0,6–0,8 persen, serta cost to income ratio (CIR) 42–43 persen.

Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel, memproyeksikan laba BMRI pada 2026 akan terdorong peningkatan pendapatan non-bunga, terutama dari monetisasi platform digital Livin’ yang lebih agresif. Beban operasional (opex) diperkirakan relatif stabil setelah adanya penyesuaian satu kali pada 2025. Secara konservatif, opex diprediksi hanya naik 3 persen yoy sehingga CIR berpotensi turun menjadi 44 persen pada 2026, dari 46 persen pada 2025.

Secara keseluruhan, laba bersih 2026 diproyeksikan tumbuh sekitar 6 persen menjadi Rp 58,7 triliun, atau 6,3 persen di atas konsensus sebesar Rp 55,2 triliun.

Dari sisi rekomendasi, Indo Premier menetapkan BMRI sebagai saham pilihan utama sektor perbankan, bersama saham Bank Negara Indonesia (BBNI). Indo Premier merekomendasikan beli (buy) dengan target harga Rp 6.400 per saham. Valuasi BMRI dinilai menarik dengan price to book value (P/B) 1,4 kali dan price to earnings ratio (P/E) 8,1 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata 10 tahun masing-masing 1,6 kali dan 11,6 kali.

Sementara itu, MNC Sekuritas juga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 6.050 per saham, mencerminkan estimasi P/B 2026 dan 2027 masing-masing 1,8 kali dan 1,7 kali.

Penguatan profitabilitas turut ditopang diversifikasi pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan non-bunga meningkat 14,5 persen yoy menjadi Rp 48,5 triliun, didorong aktivitas transaksi nasabah dan pemanfaatan layanan berbasis ekosistem digital.

Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan perseroan terus menjaga disiplin pengelolaan kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Terkait outlook negatif dari Moody’s terhadap lima bank besar nasional, termasuk BMRI, Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menyatakan penilaian eksternal dipengaruhi dinamika makroekonomi, pergerakan nilai tukar, serta kondisi fundamental masing-masing bank.

Ke depan, BMRI akan memperkuat langkah antisipatif terhadap risiko eksternal melalui penguatan likuiditas dan permodalan, menjaga kualitas pembiayaan, serta konsisten menerapkan manajemen risiko dan strategi pertumbuhan berkelanjutan.***

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI