BATANG- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, ikut menyemarakkan peluncuran Gerakan Jawa Tengah ASRI (Aman, Sehat, Resik & Indah) di Pantai Jodo, Desa Sidorejo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. Kegiatan ini berlangsung beberapa waktu lalu dan turut dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Taj Yasin, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Tengah.
Peluncuran Gerakan Jateng ASRI diawali dengan aksi bersih-bersih pantai yang melibatkan lebih dari 1.000 peserta, mulai dari unsur TNI, Polri, perguruan tinggi, badan usaha, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, relawan, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Selama kegiatan, peserta bersama-sama memungut dan memilah sampah yang berserakan di pesisir, sekaligus memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang digelar serentak di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Mohammad Saleh menegaskan pentingnya dukungan seluruh lapisan masyarakat untuk menyukseskan Gerakan Jateng ASRI. Menurutnya, persoalan sampah bukan sekadar persoalan estetika, melainkan tantangan serius yang berdampak pada kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat.
“Gerakan ini tidak boleh berhenti pada seremoni. Harus menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat,” kata Saleh seusai kegiatan bersih-bersih.
Saleh juga menyoroti kondisi pengelolaan sampah di Jawa Tengah. Berdasarkan data, produksi sampah di provinsi ini mencapai hampir 6,36 juta ton per tahun, dengan sekitar 60 persen yang berhasil diolah, sementara sisanya masih belum tertangani dengan optimal. Menurutnya, hal ini menuntut perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, mulai dari pengurangan, pemilahan, hingga pengolahan sampah di tingkat rumah tangga.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Pengelolaan sampah harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Pilah sampah sejak rumah, kurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan manfaatkan sampah organik sebagai kompos,” ujarnya.
Selain itu, Saleh menekankan perlunya sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Edukasi berkelanjutan dan pembiasaan hidup bersih harus digalakkan hingga tingkat desa dan kelurahan agar budaya menjaga lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Saleh berharap Gerakan Jateng ASRI dapat menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di seluruh wilayah Jawa Tengah, sehingga kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan semakin meningkat.
“Lingkungan yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini tanggung jawab kita bersama. Mari kita jaga Jawa Tengah agar tetap aman, sehat, resik, dan indah,” tutup Mohammad Saleh dengan penuh semangat. ***













